Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti mengungkapkan, isu perubahan iklim dan energi terbarukan menjadi fokus utama dalam gerakan Muhammadiyah ke depan. Isu perubahan iklim diangkat berdasarkan hasil keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar.Â
“Kepedulian Muhammadiyah atas isu itu tidak berhenti pada perubahan iklim saja melainkan tentang energi yang terbarukan,” kata Abdul Mu’ti dalam acara peluncuran Program 1.000 Cahaya di kantor Muhammadiyah, dikutip dalam keterangan resmi yang diperoleh Tangkasi.id, Selasa (14/5/2024).
Pria kelahiran Kudus itu mengatakan gerakan penyelamatan lingkungan harus didukung oleh banyak pihak, tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Hematnya, saat ini dunia sedang berada di situasi mendidih akibat dari pemanasan global.
“Dampak serius perubahan iklim bukan sekadar krisis energi dan pangan, tetapi juga krisis politik yang mengubah politik kawasan atau geopolitik yang tentu saja berdampak pada Indonesia,” ucapnya.
Di Indonesia, kata Abdul Mu’ti, perubahan iklim berdampak pada peningkatan permukaan air laut, sehingga daratan yang semula luas akan menyempit. Menurut para ahli, jika hal itu dibiarkan, maka diperkirakan akan mengubah peta dunia.
Perubahan alam yang berdampak pada kerusakan, kata dia, lebih disebabkan oleh faktor eksternal, terutama ulah manusia melalui peningkatan industrialisasi di berbagai sektor yang sulit dikendalikan.
“Mengapa peta dunia selalu ada perubahan setiap tahunnya, saya mengerti sekarang bahwa bisa jadi dari tahun ke tahun perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang tidak hanya disebabkan oleh alam itu sendiri, tapi juga termasuk politik,” ujarnya.
Oleh karena itu, fokus gerakan Muhammadiyah tidak hanya terbatas pada upaya penyelamatan lingkungan, tetapi juga pada promosi isu energi terbarukan. Dia mendorong agar kesadaran ini diterapkan oleh setiap institusi di Persyarikatan Muhammadiyah.
“Ada ide tentang sedekah energi, maka agenda besar Muhammadiyah secara bersama-sama bisa diupayakan agar energi terbarukan bisa dikembangkan dan dimanfaatkan,” katanya.
Energi surya dianggap sebagai sumber energi terbarukan yang potensial, terutama mengingat ketersediaan sinar matahari yang melimpah. Sebagai langkah menuju keberlanjutan energi, masjid dan kantor Muhammadiyah telah mengadopsi penggunaan energi surya dan rencananya akan diperluas ke sektor lainnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah, Azrul Tanjung menyampaikan dari ranting, cabang, dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) akan digerakkan untuk terlibat di program 1.000 cahaya, gerakan penyelamatan lingkungan.
”Selain melibatkan pondok pesantren, sekolah, masjid juga akan melibatkan amal usaha, rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, musala, dan masjid, dan panti asuhan,” jelasnya.
Menurut Azrul, tim MLH PP akan segera menyusun roadmap, untuk mengembangkan lebih lanjut lagi program energi terbarukan, melalui wakaf dan sedekah energi.
Hening Parlan, Koordinator Program 1.000 Cahaya, menjelaskan bahwa program ini merupakan sebuah gerakan yang bertujuan untuk membangun “Green Movement” dengan fokus pada empat sektor utama: ranting, sekolah, pondok pesantren, dan masjid.
“Dalam tiga tahun, kami berharap akan ada 1.000 aksi untuk memberikan cahaya pada sisi gelap dampak krisis iklim,” ujarnya. (*)