Hyundai Motor Co Ltd telah memutuskan untuk membatalkan kesepakatan pembelian aluminium dari pabrik peleburan baru berkapasitas 1,1 GW di Kalimantan Utara, Indonesia. Pabrik tersebut dimiliki oleh PT Kalimantan Aluminium Industry, anak perusahaan PT Adaro Minerals Indonesia (ADMR), perusahaan pertambangan batubara terbesar di Indonesia.
“Hyundai mengatakan kepada KPop4Planet bahwa mereka tidak akan membeli aluminium yang diproduksi dari pembangkit listrik tenaga batubara baru di Indonesia. Artinya, perjanjian bisnis dengan perusahaan Indonesia Adaro yang menjadi landasannya tidak akan dipertahankan lagi,” tulis akun x Kpop4Planet pada Selasa, (2/4/2024)
Nota kesepahaman (MoU) antara Hyundai dan Adaro awalnya menetapkan pembelian aluminium dari smelter ADMR di Kalimantan Utara, yang menggunakan PLTU berbasis batubara sebagai sumber energinya.
Namun, gerakan luar biasa dari para penggemar K-Pop melalui petisi ‘Hyundai, Drop Coal!’ telah mengubah semua itu sejak Maret 2023. Dalam petisi itu, pendukung BTS meminta Hyundai tidak membeli aluminium selama proses produksinya menggunakan batubara.
Petisi yang diunggah di Kpop4Planet.com itu sudah ditandatangani 11.129 orang. Army Indonesia membuat petisi tersebut karena bintang idolanya, BTS telah lama menjadi bintang iklan Ioniq EVs dari Hyundai. Mereka mendesak Hyundai untuk mundur dari kesepakatan dengan Adaro dan sebaliknya harus memperoleh bahan baku kendaraan listrik dari pabrik energi terbarukan, terutama energi surya dan angin.
“Menyusul berakhirnya MoU pada akhir 2023, kedua perusahaan sepakat untuk tidak memperbaruinya dan mencari peluang lain secara mandiri,” kata Hyundai Motor Company dalam pernyataan resminya kepada Kpop4Planet melalui surat elektronik pada 26 Maret 2024
Hyundai menegaskan komitmennya untuk pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, serta untuk memastikan transparansi maksimal dalam proses produksi kami.
Produksi aluminium Adaro didukung oleh batubara dari pembangkit listrik batubara yang baru dibangun, meskipun pabrik peleburan tersebut terletak di ‘kawasan industri hijau’ di Kalimantan Utara. Pembangkit listrik diperkirakan akan menghasilkan 5,2 juta ton setara CO2 per tahun, menurut Market Forces, sebuah kelompok aktivis iklim yang berfokus pada keterlibatan investor.
Jika Hyundai melanjutkan rencana pembelian aluminium sebesar 50.000—100.000 ton per tahun dari smelter tersebut, emisi scope 3 Hyundai diperkirakan meningkat 3%—6%. Hyundai padahal telah menetapkan target untuk mencapai karbon netral pada 2045.
Kpop4Planet menyambut baik keputusan produsen mobil asal Korea Selatan tersebut. Dalam akun X Kpop4Planet, mengungkapkan pihaknya membutuhkan waktu satu tahun untuk meraih kemenangan ini.
”Ini adalah kemenangan ribuan penggemar K-pop yang benar-benar peduli terhadap krisis iklim, terutama di Indonesia,” kata Nurul Sarifah, Campaigner Kpop4Planet kepada Tangkasi.id, Rabu (3/4/2024)
Pasca pembatalan perjanjian tersebut, Nurul mengungkapkan bahwa para penggemar K-pop akan terus mengawasi langkah Hyundai dalam pengadaan bahan baku untuk memastikan perusahaan tetap pada jalur yang benar sesuai dengan komitmen netral karbonnya. Hal ini juga untuk meningkatkan transparansi di seluruh rantai pengadaannya.
“Jika perusahaan ingin bisnisnya bertahan, aksi iklim harus terjadi sekarang. Menghentikan penggunaan batubara dan beralih ke energi terbarukan, terutama surya dan angin, adalah satu-satunya pilihan untuk tetap memperoleh konsumen di masa mendatang,” katanya.
Kekuatan penggemar K-Pop yang memperlihatkan suaranya dan membawa perubahan positif menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Diketahui, selama ini, jutaan penggemar muda K-pop telah memberikan kontribusi besar pada berbagai kampanye global dan kegiatan sosial, seringkali meluncurkan kampanye mereka melalui media sosial.
Menurut laporan dari The Korea Foundation, jumlah penggemar K-pop secara global diperkirakan mencapai 178 juta orang pada tahun 2022. Hasil sensus Army 2022 menunjukkan bahwa terdapat 562.280 penggemar BTS di seluruh dunia pada tahun yang sama. Indonesia menempati posisi ketiga dengan jumlah 38.453 penggemar BTS.
Sementara itu, Matthew Groch, Senior Director Heavy Industry di Mighty Earth, menyatakan kegembiraannya melihat Hyundai akhirnya mengambil tindakan yang tepat setelah tekanan dari aktivis iklim di seluruh dunia.
“Pencabutan kesepakatan ini menunjukkan kesadaran Hyundai bahwa batubara tidak sesuai dengan rantai pasokan kendaraan listrik. Hyundai diharapkan segera mengambil tindakan serupa untuk menghilangkan sumber batubara lain dari rantai pasokannya, seperti baja dari tanur sembur berbahan bakar batubara di Korea Selatan yang telah menyebabkan ratusan kematian dini setiap tahun,” kata Matthew