BRIN Ungkap Perubahan Iklim Berdampak pada Krisis Air

BRIN mengungkap perubahan iklim kian berdampak pada krisis hidrologi. Upaya Mitigasi seperti pemanenan air diperlukan untuk mengatasi krisis ini.

Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mego Pinandito, mengungkapkan bahwa kuantitas dan kualitas air di dunia sedang menuju ke arah krisis, yang dipicu oleh perubahan iklim global saat ini.

Menurut Mego, perubahan iklim yang terjadi di Indonesia ditandai dengan adanya peningkatan suhu lebih dari 0,3 derajat Celsius (°C) dan menurunnya curah hujan tahunan 2-3 persen.  

Perubahan iklim berdampak pada proses hidrologi dan sumber daya air di antaranya perubahan siklus air, kenaikan suhu bumi, kenaikan muka air laut dan terjadinya iklim ekstrim. Perubahan curah hujan di Indonesia saat ini lebih pendek dari biasanya,” kata Mego dalam keterangan resmi, Jakarta, Kamis (14/3/2024).

Mego menyoroti fenomena perubahan siklus air, yang menyebabkan banjir di beberapa daerah dengan curah hujan tinggi, sementara daerah lain mengalami kekeringan yang berat, menyebabkan krisis air yang serius.

Dia menekankan bahwa ancaman ini telah dirasakan oleh banyak negara di dunia dan memiliki dampak yang signifikan terhadap pembangunan dan kehidupan.

“Ini menimbulkan satu dampak yang luar biasa. Terhadap pembangunan dan terhadap kehidupan kita,” ucapnya.

Mego menambahkan, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada 2018 telah memprediksi adanya perubahan iklim yang mengakibatkan krisis sumber daya air. Sementara Food and Agriculture Organization juga telah memetakan krisis air dan pengelolaan lahan di negara-negara di dunia pada 2021.

Ia menambahkan, Indonesia telah merancang rencana aksi nasional untuk mengendalikan perubahan iklim yang berkaitan dengan sumber daya air. Selain itu, juga telah ditetapkan lokasi prioritas ketahanan iklim dalam arah pembangunan nasional.

Semua lembaga terkait bekerja secara bersinergi dan berkolaborasi untuk meningkatkan manajemen prasarana sumber daya air, mengembangkan manajemen risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlindungan air. Upaya juga dilakukan untuk meningkatkan penyediaan data dan informasi terkait dampak perubahan iklim.

Mitigasi Krisis Air Bersih

Dalam upaya mitigasi krisis air, BRIN mengusulkan kebijakan memanen air hujan sebagai salah satu solusi, terutama di pulau-pulau kecil dan daerah kering. Mego menjelaskan bahwa pengumpulan air hujan melalui atap bangunan dapat menjadi langkah awal yang efektif.

“Pemanfaatan curah hujan melalui atap bisa tampung dulu menjadi hal yang sangat penting,” kata Mego

Dia juga merespons beberapa program yang bertujuan untuk mengurangi risiko banjir dengan tidak langsung membuang air berlebihan ke laut.

Menurut Mego, air permukaan harus dimanfaatkan secara efisien dan tidak segera dialirkan ke laut. Dia menekankan perlunya proyek penahan air, terutama di daerah-daerah yang memiliki aliran sungai besar.

Strategi utama dalam memanen air adalah dengan memanfaatkan air permukaan, termasuk air hujan langsung dan air dari sungai kecil, serta air tanah dangkal di daerah kering. Selain itu, penggunaan curah hujan melalui atap bangunan juga dapat menjadi sumber air untuk berbagai kebutuhan, seperti rumah tangga, industri, dan perkantoran.

Ada beberapa cara untuk memanen air, seperti menampung air hujan dalam bak penampungan, membendung sungai dengan dam parit, mengalirkan air permukaan ke embung, dan memompa air sungai atau air tanah melalui sumur dangkal.

Mego menjelaskan bahwa terdapat tiga infrastruktur utama untuk memanen air, yaitu embung, dam parit, dan long storage. Embung berfungsi sebagai waduk mikro untuk mengumpulkan air dari aliran permukaan, air hujan, dan sumber air lainnya. Dam parit digunakan untuk menahan air dan meningkatkan tinggi muka air untuk keperluan irigasi, sementara long storage merupakan tampungan air yang berfungsi menyimpan luapan air sungai atau saluran irigasi saat musim hujan berakhir.

Upaya memanen air diharapkan dapat membantu mengatasi krisis air yang semakin meningkat, serta memberikan solusi bagi negara-negara yang terdampak secara signifikan oleh perubahan iklim global.