Hati-Hati Food Waste di Bulan Ramadhan

Selama bulan Ramadhan, konsumsi makanan meningkat drastis, menyebabkan peningkatan sampah makanan hingga 500 ton di Indonesia. Hal ini perlu digarisbawahi sebagai masalah serius pemborosan pangan.
Desain oleh Sigit Eka

Bulan Ramadhan selalu dinantikan dengan antusias di Indonesia. Suasana penuh berkah dan kebersamaan membuatnya spesial bagi banyak orang. anekdot “berkah sebulan dalam setahun” membuat masyarakat menghabiskan lebih banyak hidangan untuk sahur dan berbuka bersama keluarga atau handai taulan. Di sisi lain, peningkatan konsumsi makanan selama bulan Ramadhan bisa membawa pengaruh buruk.

Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Habriyanto dan timnya pada tahun 2019, konsumsi makanan dan minuman di Indonesia meningkat pesat selama bulan puasa, naik sekitar 41% – 50% untuk makanan dan 91% – 100% untuk minuman. Bahkan, orang-orang rela menggelontorkan tambahan dana hingga Rp 1.000.000 selama bulan Ramadhan.

Baru-baru ini, pantauan di platform Shopee, Tokopedia, dan Blibli menunjukkan peningkatan penjualan produk makanan dan minuman manis hingga 75% dibandingkan bulan sebelumnya. Minuman coklat, selai olesan, dan coklat kemasan menjadi primadona, dengan minuman coklat memimpin peningkatan penjualan hingga mencapai 75%.

Tak cuma itu, Menurut data dari Zero Waste Indonesia, ada beberapa perilaku buruk selama bulan ramadhan diantaranya Pemakaian kresek meningkat, Penggunaan takjil dalam kemasan sekali pakai meningkat, Sisa konsumsi dari pondok Ramadhan, Sisa sampah dari sholat Eid, Peningkatan sampah sekitar 20% selama bulan Ramadhan hingga sebanyak 500 ton makanan terbuang selama bulan Ramadhan di Indonesia.

Ini adalah masalah yang cukup serius, mengingat Indonesia adalah satu negara penghasil sampah makanan (food waste) terbesar di dunia. Menurut riset Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Indonesia kehilangan antara 23 hingga 48 juta ton makanan dari tahun 2000 hingga 2019 dengan total kerugian hingga Rp330 triliun per tahun.Mayoritas makanan yang terbuang berasal dari padi-padian, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, mengungkapkan bahwa jutaan ton sampah makanan seharusnya dapat menghidupi 61-125 juta orang Indonesia.