Azmi Pulang tanpa Membawa Uang

Banjir menjadi derita bagi para ojek online di Pekanbaru. Azmi, seorang rekanan ojek online, terpaksa berhenti saat hujan deras mengguyur kota. Banjir membuatnya merugi, menghambat rezeki. Meski begitu, pemerintah masih berjuang mengatasi masalah ini dengan penanganan banjir, namun realisasinya belum terlihat signifikan.

TANGKASI, Pekanbaru –  Azmi (46), rekanan ojek online harus mengubur impiannya mengais rejeki pada hari Minggu 13 Januari 2024. Siang itu hujan deras mengguyur jalanan kota Pekanbaru. Ia terpaksa mematikan aplikasi. Hujan deras, sudahlah pasti menyebabkan banyak genangan air alias banjir. Di banyak titik, kedalamannya susah dilewati oleh kendaraan roda dua bahkan roda empat. 

Alih-alih mendapatkan rezeki untuk keluarga, hujan deras dan banjir membuatnya merugi. Ia pernah mengalami motor mogok di tengah jalan ketika menjemput penumpang. Di musim kemarau, Azmi bisa membawa uang Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Namun di musim hujan, tidak jarang bertangan hampa tiba di rumah. 

“Pas banjir, ya, saya nggak ngojek. Saya takut karena dulu pernah motor saya mogok di tengah jalan, juga cerita cerita dari teman sesama Go-Jek yang alami kejadian lebih parah,” kata ayah tiga anak ini kepada tangkasi.id. Saat ini setidaknya ada ribuan pengguna jasa transportasi online dengan ratusan pengendara.

Genangan air ini mengikis banyak badan jalan. Air yang tak kunjung surut ditambah dengan lubang jalan yang besar mengakibatkan banyak pengendara motor mogok dan mobil rusak.

Irul (35), warga kota Duri, Bengkalis, harus menjadwal ulang pertemuan ibunya dengan dokter di salah satu rumah sakit di Pekanbaru. Siang itu, Ia terlambat tiga jam lantaran mobilnya mogok. Bagian depan mobil pecah terbentur lubang besar di tengah jalan Sudirman ujung Pekanbaru. Selama memperbaiki mobil, sang ibu hanya duduk berjam-jam di dalam mobil. Perjalanan panjang siang itu berakhir dengan gagalnya rencana operasi. 

“Iya mobil saya tadi terbentur sama lubang besar di sana (menunjuk ke arah banjir),” ujar Irul kepada tangkasi.id.

Lubang di Jalan Sudirman ujung itu memang sering merenggut korban. Menurut Akbar, warga setempat, selama dua pekan akhir Desember 2023 hingga 13 Januari 2024 lubang-lubang itu setidaknya telah menyebabkan puluhan mobil rusak. “Kadang satu hari bisa lebih dari sepuluh mobil yang rusak, mobil derek lalu lalang saja untuk menarik mereka,” ujarnya. 

Cerita keputusasaan pada level lebih tinggi atas banjir ini dirasakan oleh sekitar 9 kepala keluarga di Jalan Sudirman Ujung jembatan Siak IV, Kecamatan Rumbai. Mereka memilih untuk menjual rumahnya. Mereka akan pindah ke tempat yang tidak banjir lantaran merasa jenuh dengan kondisi pemukiman sekitar yang hampir setiap musim penghujan selalu digenangi luapan sungai Siak.

Mengutip Laporan Harian Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) (BNPB) Pekanbaru, pada Minggu 7 Januari 2024,terhitung 281 Kepala Keluarga (KK) atau 1.124 jiwa terdampak banjir dan sekitar 281 unit rumah terendam dengan ketinggian air mencapai 30- 90 cm.

Pemerintah Kota Pekanbaru telah mengeluarkan maklumat status siaga banjir sejak Desember 2023 hingga Januari 2024 yang diperpanjang hingga 29 Februari 2024.

Menyalahkan Sampah Meninggalkan Masterplan

Pemerintah Kota Pekanbaru menilai banjir terjadi akibat luapan air sungai ke badan jalan atau pemukiman. Ia mencontohkan seperti luapan sungai Siak yang menenggelamkan wilayah Rumbai dan daerah sekitarnya.

“Banjir ini meluap bagaimana caranya kita coba,” ujar PJ Walikota Pekanbaru, Muflihun saat meninjau pemukiman yang banjir di Rumbai, awal Januari 2024 lalu.

Meski demikian Ia menghimbau masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan agar aliran sungai tidak tersumbat. Senada dengan pimpinannya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pekanbaru, Ingot Hutauruk menyoroti perilaku buang sampah sembarang warga sebagai salah satu penyebab banjir sehingga programnya adalah edukasi.

“Kita berharap perilaku membuang sampah sembarangan dapat diminimalisir melalui edukasi bersama, dan saluran-saluran berfungsi dengan baik,” ujar Ingot kepada tangkasi.id melalui WhatsApp, pada pertengahan Januari 2024. Selain itu pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas PU dan Dinas Perkim Pemerintah Kota Pekanbaru. 

Banjir di kota Pekanbaru sudah terjadi puluhan tahun yang lalu dan menjadi langganan di tiap musim penghujan. Oleh karena itu, meski terlambat, pada tahun 2020, pemerintah pekanbaru bersama enam akademisi dan praktisi merumuskan “masterplan” penanganan banjir. Rencana induk ini ada di bawah koordinasi Dinas PUPR Pekanbaru. 

Awalnya, “masterplan”  ini bernama “rencana induk drainase perkotaan lalu kemudian berubah jadi “masterplan penanganan banjir”. Dokumen itu memuat pemetaan aliran air di kota Pekanbaru beserta kondisinya. Setidaknya ada 375 titik masalah drainase yang tersebar dengan 121 titik banjir. Angka ini ternyata mengalami penambahan dari tahun 2020 yang hanya 115 titik. 

“Setelah dilakukan peninjauan langsung ke lapangan dan dipetakan selama 3 bulan, setelah itu di analisis kondisi hidrologinya,” ungkap Dr Iksan yang merupakan team leader perumusan masterplan penanganan banjir kota Pekanbaru.

Sembari memperlihatkan peta kondisi saluran drainase di layar gawainya, Ikhsan menunjukkan titik-titik merah di sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Sail yang mengindikasikan “permasalahan sedimentasi dan penyumbatan sampah” beserta solusinya.

Dalam masterplan itu juga dirumuskan penanganan banjir mulai dari prioritas jangka pendek, menengah dan panjang sebagai patokan kebijakan pemerintah dengan target 20 tahun tuntas. Detail prioritas itu juga disertai estimasi anggaran dengan total yang dibutuhkan Rp300 miliar.

“Periode, skala prioritas hingga perkiraan anggaran sudah selesai tinggal pelaksanaan,” kata akademisi UNRI ini saat wawancara kedua dengan tangkasi.id pertengahan Januari lalu. 

Meski masterplan ini sudah diputuskan pada 2020 namun hingga 2024, Ikhsan menilai realisasi penanganan banjir ini belum terlihat signifikan.  “belum signifikanlah,” kata Ikhsan dengan singkat.