Tiga bulan usai kematian tragis gajah pengawal milik pemerintah di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, belum juga ada perkembangan berarti tentang penegakan hukumnya. Komunitas for Gajah Rahman bersama Aliansi Anti Perburuan dan Perdagangan Satwa Lindung (AAPPSL) Riau terus mendorong pengungkapan siapa yang membunuh Rahman dan penegakan hukum.
 Iptu Joko Sutrisno dari Ditreskrimsus Polda Riau yang juga kepala tim penyelidikan kematian gajah Rahman mengatakan bahwa sampai pertengahan Maret lalu, pihaknya masih memproses penyelidikan. Setidaknya 12 orang saksi telah dimintai keterangan. Sampel organ telah dibawa ke lab untuk diteliti.
 “Sampai saat ini masih dalam proses penyelidikan dan pendalaman motif kematian gajah Rahman ini, apakah mati karena wajar terserang penyakit atau memang sengaja diracun untuk diambil gadingnya atau untuk hal lain,” ujarnya dalam perbincangan dengan GreenRadioline, Sabtu,16 Maret 2024.
 Polda Riau memastikan bahwa penyelidikan kematian gajah Rahman akan transparan. Pihaknya telah mengetahui jenis racun yang digunakan pelaku namun belum bisa diungkap ke publik untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut. Pihaknya masih butuh waktu yang lebih panjang.
 “Jadi tidak ada yang ditutup-tutupi,” kata AKBP Bob Martin, Kasubdit Pengmas Polda Riau yang turut hadir dalam program dialog tersebut.
 Gajah Rahman yang berusia 46 tahun diketahui tergeletak lemas pada Rabu pagi, 10 Januari 2024 di tempat biasa ia diikat di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Jumadi, Sang Mahout yang membawakan buah-buahan pada pagi itu sempat memanggil-manggil gajah Rahman. Ia hendak memindahkan Rahman. Jumadi syok. Gajah Rahman telah mati bahkan tanpa meninggalkan gading yang utuh.
Hampir setiap tahun dunia konservasi di Riau selalu kelabu dengan kematian gajah sumatera. Sejak Januari 2023 tercatat tiga kasus kematian gajah di tanah melayu. Penyebabnya antara lain dijerat hingga diracun oleh manusia. Gadingnya hilang. Namun ada juga gajah mati karena virus herpes.
Seekor anak gajah mati di Taman Wisata Alam Buluh Cina Riau pada 11 Januari 2023. Anak gajah bernama Damar ini divonis mati akibat virus herpes atau Elephant Endotheliotropic Herpes. Kematian gajah Sumatera yang kedua terjadi pada 11 Juli 2023 di kantong habitatnya di Tesso Tenggara. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KBKSDA) Riau menyatakan kematiannya karena diracun.
Saat ditemukan kondisi bangkai gajah berusia sekitar 10-12 tahun itu dalam kondisi utuh sehingga petugas menyimpulkannya bukan dibunuh oleh pemburu. BBKSDA menyatakan ada pihak tertentu yang merasa terganggu dengan keberadaan gajah itu. Pasalnya di lokasi yang sebenarnya adalah habitat gajah tersebut sudah berubah jadi kebun sawit.
“Sawit ditanam oleh masyarakat, areal itu berada di Konsesi Hutan Produksi Hutan Tanaman Industri,” kata German Suhefti Hasibuan Kepala BBKSDA Riau, seperti dikutip dari Liputan6.
Kematian gajah di Riau sudah mencapai 28 kasus sejak 2015 hingga saat ini. Sebanyak 10 kasus pada tahun 2015 dan 5 kasus kematian pada 2016.
Gajah sumatera adalah satwa endemik yang dilindungi oleh hukum Indonesia. Lembaga pemeringkat konservasi dunia menetapkan populasi gajah ini berstatus terancam punah. Ekspansi perkebunan monokultur baik yang dilakukan masyarakat maupun perusahaan telah mendorong satwa ini selangkah menuju kepunahan. Bahkan belakangan ini, kematiannya terjadi di areal yang berada di bawah pengawasan langsung Kementerian Lingkungan Hidup seperti di Taman Nasional Tesso Nilo.
Fitriani Kurniasari, pendiri sekaligus juru bicara Komunitas for Gajah Rahman mendesak pihak terkait untuk serius mengungkap siapa dalang pembunuh gajah Rahman. “Komunitas ini didirikan untuk menjaga agar kasus ini tidak menguap begitu saja, dan kasus-kasus (kematian gajah) lain bisa dimonitoring,” kata Fitriani kepada TangkasiID saat aksi di Pekanbaru pertengahan Maret lalu.
“Sejak September itu total sudah ada 4 gajah (satu kasus di Lampung) yang mati dan kasusnya tidak ada follow up (tindaklanjut) sama sekali,” lanjutnya.(*)