Pernyataan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengenai ketersediaan beras yang melimpah, harga terjangkau dan tersebar di seluruh pasar tradisional dan ritel modern di Indonesia bertolak belakang dengan situasi yang dialami warga.
Tiara (32), warga Pamulang, Ciputat mengeluhkan susahnya membeli beras baik di pasar tradisional maupun ritel modern. Ibunya yang sedang berkunjung dari Lampung bahkan harus ikut antre pembagian beras murah.
“Tadi pagi dapat info di SD dekat Waskito ada antrean beras. Ikut dia di situ. Harganya tinggi (di pasaran), emak-emak merasa berat gitu kalau beli. Eh, ternyata harus pakai KTP setempat. Gak kebagian. Tapi yang punya KTP setempat juga gak kebagian. Stoknya kurang. Pulang dengan tangan kosong,” ujar Tiara kepada Tangkasi.ID, Selasa (28/2/2024).
Kemudian ibunya bergerak ke Hypermart. Dapat beras merek Rojo Lele 15 kg. Harga per lima kilogram Rp69.500. Itu pun setelah antre panjang. Ibunya nyetok beras karena dapat informasi kalau harga beras di Lampung sudah naik. Beras cap Udang harganya sudah Rp160.000 per sepuluh kilogram.
“Kalau beras yang dibagi-bagi (ketika masa kampanye pilpres) kutuan, mahal lagi harganya,” kata Tiara.
Puspita, seorang ibu rumah tangga dari Benowo, Surabaya, Jawa Timur, menyebut kenaikan harga beras tidak masuk akal. Dalam seminggu, harga beras bisa naik dua kali lipat. Meskipun harga beras naik, Puspita menyatakan bahwa keluarganya tetap harus membeli karena beras merupakan kebutuhan pokok.
“Kalau di keluarga saya sendiri tidak mengurangi kebutuhan nasinya. Untuk menyiasatinya biasanya kita beli beras dengan kualitas premium, ya, misalnya, kita membeli dengan grade-nya yang dikurangi dikit,” ujar Puspita. “Atau kalau nggak kita bisa mengaturnya dengan memilih membeli lauk yang lebih murah. Saya begitu sih kalau menyiasatinya,” lanjutnya, dikutip dari Tirto, Selasa kemarin.
Kesusahan memperoleh makanan pokok itu pun dirasakan Anto (33 tahun), warga Bekasi. “Terakhir beli harga 75 ribu di supermarket, jenis premium. Tapi itu juga ada ketentuan dari supermarketnya enggak boleh beli lebih dari 5 kg per transaksi,” kata Anto.
Menurut dia, beras subsidi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog memang ada di pasaran, tapi stoknya minim. Tak hanya itu, warga harus rebutan dan antre bila mau membeli beras SPHP tersebut. Akhirnya, Anto terpaksa membeli beras premium yang harganya lebih mahal dan terbatas.
Situasi ini membuatnya merasa tidak puas dengan kinerja pemerintah dalam mengendalikan harga pangan jelang Ramadan. “Pasti tidak [puas], negara kita agraris tapi beras langka dan mahal. Ini tidak masuk akal, rugi dong,” ujar Anto.
Anto mengaku kesal dengan harga beras yang terus naik. “Apalagi sekarang sudah mau memasuki Ramadan dan biasanya harga kebutuhan pokok naik. Kalau cabe mahal, ya bisa kita kurangi pedasnya, lah kalau berasnya yang mahal, mau gak mau, ya dibeli, kan,” ucapnya.
Stok Beras di Lumbung Pangan.
Vivi Virgonita, seorang warga Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, merasakan perjuangan luar biasa untuk mendapatkan beras dengan harga yang terjangkau. Bersama puluhan warga lainnya, ia rela mengantre berjam-jam di lorong depan kios pedagang beras di Pasar Besar Ngawi, hanya untuk mendapatkan beras murah dari Bulog.
Ia menceritakan betapa khawatirnya tidak kebagian beras dengan harga yang lebih terjangkau. Para warga, yang mayoritas adalah ibu-ibu, bersemangat mengantre sejak subuh di depan kios pedagang. Bahkan, ada yang sampai ketiduran di lantai, begitu besar keinginannya untuk membawa pulang beberapa kilogram beras.
Vivi mengungkapkan, warga yang tidak kebagian beras protes karena di daerah lumbung pangan seperti Ngawi, beras masih mahal dan sulit didapat. Kesulitan bahan pangan beras juga diperparah naiknya harga kebutuhan pokok lain seperti cabai rawit kini terkerek menjadi Rp85.000 dari sebelumnya Rp45.000 per kilogram.
“Semakin hari beras semakin mahal. Ini Rp54.500, di luar bisa jadi Rp70.000. Kenapa di sini (Ngawi) gudang beras kok seperti ini? Apa ini permainan?” tanya Vivi dengan nada kesal, dikutip idntimes, Senin, (26/2/2024)
Perjuangan serupa juga terjadi di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, di mana antrean masyarakat membentuk garis panjang setiap kali beras dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog tiba di Pasar Sayur Magetan. Dengan semangat, ibu-ibu rumah tangga berdesakan demi mendapatkan beras murah tersebut.
Namun, ironisnya, meski kebutuhan mereka begitu mendesak, tidak semua kios pedagang beras menjual beras dari program SPHP Bulog. Berbagai alasan digunakan, sehingga banyak warga yang harus pulang dengan tangan hampa. Bahkan, ada kios yang menolak menjual kepada masyarakat, meskipun persediaan baru saja tiba.
“Tidak semua kios yang mendapat pasokan SPHP boleh kami beli. Mereka bilang stoknya tinggal lima sampai sepuluh wadah padahal baru saja datang. Kami terpaksa berebut agar mendapatkan beras dari kios-kios yang bersedia menjual,” ujar Winarti, seorang kuli gendong yang turut berjuang dalam antrean panjang itu.
Dalam kondisi yang menantang seperti ini, warga Ngawi dan Magetan merasa bertanya-tanya, mengapa di daerah lumbung pangan seperti mereka, beras masih sulit didapat dan harganya terus meroket. Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sebagai bentuk protes atas kondisi yang tidak sejalan dengan ekspektasi mereka sebagai negara agraris.
Efek Domino Bagi UMKM dan Pedagang Beras
Kenaikan harga beras dalam dua pekan terakhir di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, telah menimbulkan dampak yang cukup besar, terutama bagi pedagang dan masyarakat menengah ke bawah. Harga yang semakin melambung membuatnya menjadi barang yang sulit dijangkau.
Harga eceran beras satu minggu lalu masih berkisar antara Rp 14.500 hingga Rp 15.000 per kilogram. Kini sudah Rp 16.000 sampai Rp 18.000 per kilogram. Pedagang beras seperti Jafar di Pasar Tangga Arung merasakan dampaknya secara langsung. Harga yang terus naik membuatnya sulit untuk mendapatkan untung yang sesuai. Bahkan dengan harga yang tinggi, untung yang diperolehnya hanya sekitar Rp 500 per kilogram, dengan kekhawatiran bahwa pembeli menjadi semakin jarang datang.
Informasi dari agen tempat Jafar mendapatkan beras menyebutkan bahwa kenaikan harga ini disebabkan oleh kurangnya produksi beras dari Jawa dan Sulawesi. Prediksi menunjukkan bahwa tren kenaikan harga akan terus berlanjut hingga bulan Ramadan mendatang. informasi dari agen tempat Jafar memperoleh beras, harga beras pun diperkirakan bakal tembus Rp19 ribu sampai Rp20 ribu per kilogram. Menurutnya, bila benar beras tembus Rp20 ribu, itu merupakan harga beras termahal yang pernah dia jual selama melakoni profesinya sebagai pedagang.
“Sekarang pun sudah mahal sekali. Saya juga tidak habis pikir. Biasanya naik paling sebulan normal, ini malah naik terus. Belum lagi mau dekat Ramadan, bisa semakin melonjak,” ungkap Jafar dikutip tribunnews.com, Kamis (22/2/2024).
Di sisi lain, Kadir, seorang pedagang nasi goreng di Surabaya, juga merasakan dampaknya. Harga beras yang naik langsung mempengaruhi penghasilannya. Meskipun dia tetap menjaga harga dagangannya, hal ini membuat penghasilannya berkurang.
Kadir melanjutkan, setahun yang lalu, harga beras untuk bahan nasi goreng per kilogramnya Rp14.000. Sekarang harganya naik menjadi Rp16.500 sampai Rp17 ribu. “Harga makanan pokok seperti telur dan cabai juga naik. Ya semoga bisa distabilkan lagi harganya. Jangan terlalu mahal,” harapnya kepada pemerintah, dikutip BBC.com
Muhammad Ibrizi, pedagang makanan warung Tegal di Sleman, juga mengamati kenaikan harga bahan pokok. Kenaikan yang biasanya terjadi menjelang hari raya Idulfitri, kini terjadi sebelum bulan Ramadan.
Meskipun harga-harga naik, para pedagang ini belum berencana untuk menaikkan harga jualan mereka. Mereka lebih memilih untuk mengurangi belanjaan guna menekan biaya produksi.
Dengan adanya kenaikan harga beras yang signifikan ini, para pedagang dan UMKM merasakan tekanan yang cukup besar. Mereka berharap agar pemerintah dapat melakukan langkah-langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas harga beras dan bahan pokok lainnya, sehingga tidak memberatkan masyarakat terutama di masa-masa yang sulit seperti saat ini. (*)