Oleh Reja Hidayat, Kontributor Jakarta TangkasiID
Para penggemar budaya populer Jepang di Indonesia, biasa disebut wibu, mulai secara terbuka mengungkapkan minat mereka terhadap isu lingkungan dan energi bersih di tanah air. Penggemar melakukan hal itu dengan cara menggabungkan karya-karya manga dan anime yang mengangkat isu lingkungan dengan realitas di Indonesia. Karya-karya ini tampil di booth Anime Festival Asia 2024.
Upaya kolaboratif ini diprakarsai oleh komunitas Wibu4Planet, sebuah komunitas pecinta budaya pop Jepang sekaligus peduli lingkungan yang dibentuk Trend Asia. Tujuannya, mengajak para penggemar budaya populer Jepang di Indonesia untuk turut serta dalam upaya melawan krisis iklim dan mencapai transisi energi bersih yang adil.
Digital Campaigner Trend Asia, Salman Al Farisi, menyatakan bahwa krisis iklim merupakan ancaman global yang membutuhkan tindakan kolektif dari berbagai pihak. Pihaknya yakin kerja sama antara wibu, organisasi lingkungan, dan pemerintah bisa menjadi kunci untuk transisi energi yang adil. Walaupun rumit dan menakutkan, ia yakin selalu ada harapan membuat perubahan.
“Melalui Wibu4Planet, setiap orang memiliki kesempatan mengurangi dampak krisis iklim. Langkah sederhananya bisa dimulai dari mempelajari apa itu krisis iklim, menerapkan gaya hidup hemat energi, membeli produk ramah lingkungan, hingga ikut terlibat meningkatkan kesadaran publik,” kata Salman dalam keterangan resmi awal Mei 2024.
Ia lalu mengutarakan, Wibu4Planet menjadi wadah pertama di Indonesia yang menggabungkan isu lingkungan dengan budaya populer Jepang. “Harapannya, gerakan komunitas ini dapat mendorong pemerintah Jepang untuk mendukung upaya Indonesia dalam mengatasi krisis iklim,” katanya. Sebagaimana Perjanjian Paris, negara maju seperti Jepang diminta untuk memimpin upaya dekarbonisasi dan membantu negara berkembang menghadapi tantangan krisis iklim.
Karya budaya populer Jepang, tambah Salman, yang membahas tema lingkungan dan isu sosio-politik, memiliki potensi besar untuk menghubungkan para penggemar budaya itu dengan gerakan sosial. Melalui karya-karya ini, terbuka ruang bagi penggemar budaya Jepang–jumlahnya terus bertambah seiring dengan meningkatnya popularitas budaya Jepang sejak pertengahan 1980-an, untuk lebih memahami peran Jepang dalam berbagai proyek energi di Indonesia.
Dengan pengaruh besar budaya pop Jepang di Indonesia itu, Wibu4Planet menggunakan medium anime dan manga Jepang dengan cerita utama mengenai isu lingkungan maupun sosial, untuk menunjukkan keselarasan realitas yang terjadi di Indonesia.
Wano Kuni, alur cerita 31 dari manga dan anime One Piece, yang lingkungannya rusak akibat industri besi, misalnya, mencerminkan kerusakan lingkungan dan kerugian sosial yang terjadi di Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara karena tambang nikel. Wibu4Planet menunjukkan itu lewat VR 360 yang menekankan kemiripan lanskap geografis keduanya.
“Banyak anime, manga, dan musik Jepang yang mengambil inspirasi dari berbagai permasalahan struktural yang ada di Jepang dan dunia. Salah satunya Studio Ghibli yang terkenal sering mengangkat isu kepedulian terhadap lingkungan. Wibu4Planet juga memercayai bahwa budaya populer bisa menciptakan interaksi yang lebih humanis dan mampu menggerakkan hati para peminatnya,” kata Salman.
Wibu4Planet juga menerbitkan karya secara mandiri (doujinshi) tentang maskot Wibu4Planet bernama Nekobu yang bertemu dengan karakter-karakter populer dari anime, manga, maupun film Jepang. Princess Mononoke, salah satu film Studio Ghibli yang terkenal paling getol membahas isu lingkungan dan kerusakan hutan menjadi satu kisah yang diulik Wibu4Planet karena mencerminkan deforestasi hutan di Kalimantan.
Namun, kisah Princess Mononoke bukan satu-satunya benang merah yang menyatukan Jepang dengan realitas di Indonesia. Jepang juga memiliki pengaruh besar di sektor energi di Indonesia. Jepang mendanai beberapa proyek energi yang menggunakan sumber energi kotor batubara. Salah satunya proyek co-firing biomassa–membakar batubara dengan biomassa pelet kayu secara bersamaan di PLTU. Proses produksi pelet kayu itu dilakukan dengan menebang hutan– deforestasi.
“Biomassa yang sering disebut sebagai sumber energi terbarukan sebenarnya bentuk greenwashing, sebab turut mendorong deforestasi hutan-hutan alam di Indonesia dan memperburuk krisis iklim,” ujar Amalya Oktaviani, Bioenergy Campaigner Trend Asia.
Meski demikian, Wibu4Planet juga ingin menunjukkan bahwa budaya populer Jepang bisa menjadi cara untuk mempromosikan energi bersih terbarukan. Kota Pendragon dari Code Geass menjadi contoh baik kota modern yang menggunakan sumber energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMh). Teknologi basis energi terbarukan dan ramah lingkungan seperti itu yang dibutuhkan Indonesia untuk mencapai transisi energi bersih.
Selain itu, Wibu4Planet juga mengulik cerita anime lainnya berjudul Dr Stone, lewat doujinshi tentang petualangan Senku bersama Nekobu di Cirebon yang dikelilingi dua PLTU batubara; Cirebon 1 dan Cirebon 2 yang menyebabkan polusi laut dan udara.
Sang jenius Senku yang mampu merakit teknologi modern saat dunia kembali ke zaman batu, diceritakan terlempar ke dunia paralel (isekai) dan berada di Indonesia. Ia kemudian menjadi sosok yang membantu warga Cirebon membangun PLTS sebagai sumber energi bersih, menggantikan energi kotor dari PLTU batubara.
Dalam realitasnya, Jepang yang berencana mendanai proyek batubara PLTU Cirebon 1 dan 2, akhirnya mencabut pendanaannya untuk PLTU Indramayu atas tuntutan masyarakat yang merasakan dampak kesehatan dan ekonomi dari polusi dan limbah PLTU. Hal ini menjadi satu kemenangan kecil menuju transisi energi dan mengentaskan krisis iklim di Indonesia.
“Dalam skema internasional untuk transisi energi, Jepang termasuk salah satu negara yang memberikan dana dengan jumlah besar ke Indonesia. Karena itu, perlu menjaga agar dana tersebut sepenuhnya digunakan untuk proyek energi terbarukan yang ramah lingkungan agar Jepang dan Indonesia bersama-sama bisa mencapai transisi energi bersih dan berkeadilan,” ujar Novita Indri, juru kampanye energi Trend Asia. (*)