Memperjuangkan Pengurangan Penggunaan Plastik hingga 60% pada 2040

Indonesia, sebagai negara kedua terbesar penghasil sampah plastik, mendorong pengurangan produksi plastik hingga 60% pada 2040. Di Indonesia, 39,4% sampah plastik tidak dikelola dengan baik, membutuhkan peran produsen dan penegakan hukum untuk solusi.

Hari Bumi 2024 tiba, dan tema yang diangkat kali ini menggugah kesadaran akan ancaman plastik terhadap Bumi dan manusia: Planet vs Plastic. Diperingati pada Senin (22/4/2024), Hari Bumi merupakan momen penting setiap tahunnya, mengingatkan semua orang akan tanggung jawab terhadap lingkungan. Indonesia disebut merupakan negara kedua penghasil sampah plastik terbesar dunia setelah China.

Tema tahun ini, Planet vs Plastic, menyoroti risiko besar yang ditimbulkan oleh penggunaan plastik terhadap kesehatan manusia dan planet kita. Dilansir dari Earthday.org, pesan ini menyerukan penghapusan plastik sekali pakai, mendesak perlunya Perjanjian PBB tentang polusi plastik, dan menuntut pengurangan produksi plastik sebesar 60% pada tahun 2040.

“Kampanye Planet versus Plastik adalah seruan untuk mengangkat senjata, sebuah tuntutan agar kita bertindak sekarang untuk mengakhiri momok plastik dan menjaga kesehatan setiap makhluk hidup di planet kita,” kata Kathleen Rogers, Presiden Earthday.org dalam keterangan resmi, Senin (22/4/2024).

Kathleen menegaskan bahwa plastik bukan lagi sekadar masalah lingkungan, melainkan juga ancaman serius terhadap kesehatan manusia. Bahkan, dampaknya sama mengkhawatirkan dengan perubahan iklim.

Ketika plastik terurai menjadi mikroplastik, zat-zat kimia beracun dilepaskan ke dalam sumber makanan dan air, kemudian tersebar melalui udara yang kita hirup. Produksi plastik kini mencapai lebih dari 380 juta ton per tahun. Jumlah plastik yang diproduksi dalam sepuluh tahun terakhir melebihi total produksi selama seluruh abad ke-20, dan industri ini memiliki rencana untuk berkembang secara drastis dalam waktu yang tidak ditentukan.

Earthday.org menjabarkan empat strategi untuk mencapai pengurangan produksi plastik. Pertama, meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak plastik terhadap kesehatan manusia dan ekosistem. Kedua, menghapuskan penggunaan plastik sekali pakai pada tahun 2030, dan mendorong komitmen global melalui perjanjian PBB.

Ketiga, menyerukan akhir dari pola konsumsi fast fashion yang berkontribusi pada peningkatan produksi plastik. Keempat, investasi dalam teknologi dan material inovatif untuk menciptakan dunia yang bebas dari plastik.

Sementara itu, Denis Hayes, Ketua Emeritus EARTHDAY.ORG, menyatakan, semua plastik ini diproduksi oleh industri petrokimia dengan catatan emisi, tumpahan, dan ledakan beracun yang sangat buruk.

“Plastik diproduksi di fasilitas pencemar yang sepertinya selalu berlokasi di lingkungan termiskin. Beberapa plastik mematikan jika dibakar; plastik lain mengandung bahan kimia yang mengganggu hormon; dan semua plastik dapat membuat burung kelaparan dan membuat kehidupan laut mati. Di setiap tahap siklus hidup mereka, mulai dari sumur minyak hingga pembuangan sampah di kota, plastik adalah penyakit yang berbahaya.”

Dia mengungkapkan, lebih dari 500 miliar kantong plastik diproduksi di seluruh dunia pada tahun lalu, setara dengan satu juta kantong per menit. Banyak kantong plastik hanya bertahan beberapa menit sebelum berubah menjadi limbah yang akan ada selama berabad-abad. Bahkan setelah terurai, plastik tetap menjadi mikroplastik yang tersebar di seluruh planet.

Di Amerika Serikat, terjual 100 miliar wadah minuman plastik tahun lalu. Artinya lebih dari 300 botol per penduduk. Namun, sedikit sekali plastik yang didaur ulang; sebagian besar hanya berakhir sebagai limbah serta 5 persen diubah menjadi produk berkualitas rendah atau dikirim ke negara-negara miskin untuk didaur ulang. Bahkan 95% dari seluruh plastik di AS tidak akan didaur ulang sama sekali.

“Orang jarang memikirkan air ketika memikirkan plastik. Tapi membuat botol air plastik membutuhkan air enam kali lebih banyak dari isi botol itu sendiri,” kata Denis.


Pesoalan Sampah Plastik Indonesia.

Sampah plastik menjadi salah satu penyumbang polusi yang signifikan di masyarakat, termasuk di Indonesia. Bahkan, menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2022, volume sampah plastik di Indonesia menempatkannya sebagai yang terbesar kedua di dunia setelah China.

Tercatat sebanyak 18,12 persen dari total sampah yang dihasilkan di Indonesia pada tahun tersebut merupakan sampah plastik. Dengan total timbulan sampah mencapai 69,2 juta ton, ini berarti ada sekitar 12,5 juta ton sampah plastik yang dihasilkan di Indonesia.

Namun, yang menjadi perhatian adalah fakta bahwa sebanyak 39,4 persen dari seluruh sampah plastik yang dihasilkan oleh masyarakat tidak dikelola dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa masih diperlukan upaya lebih lanjut dalam penanganan sampah plastik di Indonesia.

Guru Besar Bidang Biologi Konservasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Jatna Supriatna, menyampaikan bahwa sampah plastik yang tidak terkelola memiliki potensi besar untuk mencemari lautan.

Supriatna mengutip data dari Filipina yang menunjukkan bahwa jumlah plastik di laut hampir sama dengan jumlah ikan yang ditangkap oleh nelayan. Dari hasil tangkapan nelayan di Filipina, sekitar 60 persen terdiri dari ikan dan 40 persen terdiri dari plastik.

“Kita tidak boleh membiarkan lautan kita lebih banyak dihuni oleh plastik daripada ikan. Ini harus menjadi perhatian bersama,” katanya pada KompasID pada awal Februari 2024.

Sementara itu, hasil sensus Badan Riset Urusan Sungai Nusantara [BRUIN] 2023, yang dilakukan di 64 titik di 28 kabupaten/kota di 13 provinsi, menyoroti persoalan utama di Indonesia: sampah plastik. Dalam kegiatan tersebut, ditemukan sebanyak 25.733 sampah plastik, terutama kemasan sachet.

Sepuluh penyumbang terbesar sampah di perairan adalah sampah plastik tanpa merek [37%], Wings [16,4%], Unilever [12,3%], Indofood [10,1%], Mayora [8,1%], PT. Santos Jaya Abadi [5,6%], Unicharm [2,4%], P&G [2,3%], Garudafood [2%], dan Ajinomoto [1,8%].

Berdasarkan jenis produk, sampah makanan mendominasi, diikuti oleh pembungkus, alat rumah tangga, perawatan diri, dan perlengkapan merokok.

Muhammad Kholid Basyaiban, Koordinator Program Sensus Sampah Plastik Indonesia dari BRUIN, menyatakan bahwa hasil sensus ini menunjukkan belum teraturnya penanganan sampah plastik di Indonesia.

“Meskipun kesadaran masyarakat meningkat, namun sampah plastik masih melimpah di perairan Indonesia,” katanya awal Januari 2024 dikutip dari MongabayID.

Meurutnya, tata kelola sampah plastik ini sangat bergantung pada peran produsen dalam mencegah pencemaran lingkungan dari produknya. Selain menyediakan fasilitas pengelolaan sampah, produsen juga perlu merancang ulang kemasan mereka dan menerapkan teknologi dengan emisi yang minim.

Oleh karena itu, pihaknya menyerukan tanggung jawab kepada 10 produsen terbesar yang mencemari lingkungan untuk mengelola sampah mereka dengan baik. Selain itu, penegakan hukum juga merupakan faktor krusial dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas sampah plastik.